Berita

Era Buzzer dan Algoritma: Krisis dalam Dunia Media Nasional
Berita Terbaru

Era Buzzer dan Algoritma: Krisis dalam Dunia Media Nasional

Krisis media sosial yang ditandai oleh dominasi buzzer, konten berbayar terselubung, serta kendali algoritma platform digital kini merembet ke ruang redaksi media arus utama. Alur informasi publik tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh kerja jurnalistik, melainkan oleh kepentingan pemerintahan, logika viral, dan sistem distribusi digital yang mengutamakan sensasi dibanding kebenaran. Situasi ini menandai babak baru krisis media nasional yang mengancam kualitas demokrasi Indonesia.

Buzzer, Algoritma, dan Distorsi Informasi

Di ruang digital, opini publik semakin mudah diarahkan melalui jaringan buzzer dan konten terkoordinasi. Algoritma media sosial memperkuat kecenderungan ini dengan memprioritaskan:

  • konten emosional,
  • narasi konflik,
  • informasi yang memicu reaksi cepat,
  • pesan yang dikemas populer.

Akibatnya, informasi yang akurat dan berimbang kalah bersaing dengan narasi yang paling bising dan menguntungkan pihak tertentu.

Tanggapan Prayogi R. Saputra: Negara Tidak Boleh Netral terhadap Kerusakan Informasi

Anggota Majelis Tinggi Partai X sekaligus Direktur X Institute, Prayogi R. Saputra, menilai krisis ini bukan semata persoalan teknologi, tetapi kegagalan tata kelola negara.

“Tugas negara itu tiga: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Ketika buzzer dan algoritma menguasai arus informasi, lalu media kehilangan daya kritis, negara tidak boleh diam. Membiarkan ruang publik dikendalikan kepentingan sempit berarti gagal melindungi rakyat dari manipulasi, gagal melayani hak atas kebenaran, dan gagal mengatur ekosistem informasi secara adil,” tegas Prayogi.

Ia menambahkan bahwa demokrasi tidak bisa bertahan jika kebenaran dikalahkan oleh rekayasa persepsi.

Dampak Langsung bagi Publik

Krisis media nasional di era buzzer dan algoritma menimbulkan konsekuensi serius:

  • turunnya kepercayaan publik terhadap media,
  • meningkatnya polarisasi sosial,
  • kebijakan publik sulit diawasi,
  • kritik dilemahkan atau ditenggelamkan,
  • masyarakat kehilangan rujukan informasi yang kredibel.

Dalam jangka panjang, masyarakat hidup dalam realitas yang dibentuk narasi, bukan fakta.

Solusi: Menata Ulang Ekosistem Informasi Nasional

Prayogi R. Saputra mengusulkan langkah-langkah strategis berikut:

1. Regulasi transparansi buzzer dan konten digital

Semua konten berbayar dan terkoordinasi wajib diberi label terbuka.

2. Reformasi sistem distribusi informasi digital

Negara perlu mendorong platform membuka mekanisme kerja algoritma yang berdampak pada opini publik.

3. Penguatan independensi dan pembiayaan media

Media harus didorong memiliki sumber pendanaan publik yang bersih dari intervensi kekuasaan.

4. Perlindungan hukum bagi jurnalis dan media kritis

Aparat wajib menjamin keamanan kerja jurnalistik dari tekanan kekuasaan dan kelompok terorganisir.

5. Literasi digital nasional

Masyarakat perlu dibekali kemampuan mengenali manipulasi informasi, propaganda, dan konten pesanan.

Penutup

Krisis media nasional di era buzzer dan algoritma bukan sekadar persoalan industri pers, melainkan ancaman langsung terhadap kualitas demokrasi dan kedaulatan rakyat atas kebenaran.

Prayogi R. Saputra menegaskan bahwa mengembalikan kesehatan media berarti mengembalikan negara pada mandat dasarnya: melindungi rakyat dari manipulasi informasi, melayani publik dengan kebenaran, dan mengatur ruang digital agar tidak dikuasai segelintir kepentingan.