Berita

Bangsa-Bangsa yang Bernama Indonesia
Berita Terbaru

Bangsa-Bangsa yang Bernama Indonesia

Oleh: Adv. Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

Selama puluhan tahun masyarakat Indonesia terbiasa memahami Indonesia sebagai satu bangsa yang terdiri dari berbagai suku. Jawa disebut suku, Sunda disebut suku, Bugis disebut suku, Melayu disebut suku, begitu pula Aceh, Minangkabau, Batak, Dayak, Banjar, Madura, dan ratusan kelompok lainnya di Nusantara. Cara pandang tersebut begitu umum sehingga jarang dipertanyakan kembali. Namun dalam salah satu forum Maiyah, Cak Nun pernah mengajukan pertanyaan yang mengguncang cara berpikir tersebut: "Jawa itu kok disebut suku? Jawa itu sudah memenuhi seluruh syarat menjadi bangsa."

Kalimat itu memang terdengar sederhana, tetapi mengandung persoalan yang sangat mendasar. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan bangsa? Dan mengapa kelompok-kelompok besar di Nusantara lebih sering disebut suku, sementara kelompok serupa di belahan dunia lain disebut bangsa?

Ketika Jawa Memenuhi Syarat Sebagai Bangsa

Dalam pengertian modern, bangsa biasanya dipahami sebagai kumpulan manusia yang memiliki identitas budaya, bahasa, sejarah, nilai, dan kesadaran kolektif yang relatif sama. Jika menggunakan ukuran tersebut, maka Jawa jelas memenuhi syarat tersebut. Jawa memiliki bahasa sendiri. Jawa memiliki sistem nilai yang khas. Jawa memiliki tradisi, kebudayaan, sastra, filsafat hidup, hingga sejarah panjang kerajaan besar jauh sebelum Indonesia lahir sebagai negara modern. Hal yang sama sebenarnya juga dapat ditemukan pada Melayu, Bugis, Aceh, Madura, Minangkabau, Batak, dan berbagai komunitas besar lainnya di Nusantara. Karena itu, pertanyaan Cak Nun menjadi menarik. Jika kelompok masyarakat dengan karakteristik seperti itu di Eropa disebut bangsa, mengapa di Indonesia disebut suku?

Cak Nun memberi contoh yang sangat menarik,"Orang Belanda itu jumlahnya sedikit sekali. Bahkan hanya seukuran Jawa Barat. Tetapi disebut bangsa."

Pernyataan tersebut bukan bertujuan membesarkan Jawa atau mengecilkan bangsa lain. Kritik tersebut lebih diarahkan pada konsistensi cara berpikir. Jika masyarakat dengan bahasa, budaya, sejarah, dan identitas khas di Eropa disebut bangsa, maka mengapa kelompok dengan karakteristik serupa di Nusantara hanya disebut suku? Di sinilah muncul pertanyaan yang lebih besar mengenai bagaimana Indonesia sebenarnya terbentuk.

Indonesia Bukan Menghapus Bangsa Nusantara

Banyak orang membayangkan Indonesia sebagai satu bangsa tunggal yang kemudian membentuk negara. Namun jika melihat realitas sejarah dan sosial, yang terjadi justru sebaliknya. Indonesia lahir dari berhimpunnya berbagai bangsa Nusantara ke dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Bangsa Jawa tidak hilang ketika Indonesia berdiri. Bangsa Melayu tidak hilang ketika Proklamasi dikumandangkan. Bangsa Bugis tetap hidup. Bangsa Aceh tetap ada. Bangsa Madura tetap memiliki identitasnya. Yang lahir pada tahun 1945 bukan penghapusan bangsa-bangsa Nusantara, melainkan kesepakatan sosial dan politik untuk hidup bersama dalam satu negara. Karena itu, Cak Nun pernah menyebut:

"Indonesia itu sebenarnya perserikatan bangsa-bangsa."

Pandangan ini menunjukkan bahwa Indonesia dibangun bukan dari keseragaman, melainkan dari keberagaman yang sepakat bersatu. Indonesia bukan negara yang lahir karena semua masyarakatnya memiliki budaya yang sama, bahasa daerah yang sama, atau identitas etnis yang sama. Indonesia lahir karena berbagai bangsa Nusantara memilih membangun masa depan bersama.

Bhinneka Tunggal Ika dan Kesepakatan Kebangsaan

Pandangan tersebut sebenarnya sejalan dengan makna Bhinneka Tunggal Ika. Persatuan Indonesia tidak pernah dimaksudkan untuk menghapus perbedaan. Persatuan Indonesia justru dibangun di atas kemampuan mengelola perbedaan. Indonesia bukan proyek penyeragaman identitas. Indonesia adalah kesepakatan hidup bersama di tengah keragaman. Dalam konteks itu, identitas Jawa, Melayu, Sunda, Aceh, Bugis, Batak, Dayak, dan lainnya tidak perlu dihapus agar Indonesia tetap berdiri. Justru keberagaman itulah yang menjadi fondasi Indonesia. Karena itu, memahami Indonesia sebagai rumah besar bangsa-bangsa Nusantara dapat membantu masyarakat melihat persatuan secara lebih sehat. Persatuan tidak berarti semua harus menjadi sama. Persatuan berarti berbagai identitas yang berbeda sepakat hidup bersama demi tujuan yang lebih besar.

Menurut Cak Nun, salah satu persoalan terbesar adalah cara pandang bangsa Indonesia yang sering masih menggunakan kacamata warisan Barat. "Kita ini diombang-ambingkan oleh cara berpikir Barat yang sudah menjajah dunia lima abad."

Pernyataan tersebut bukan berarti menolak seluruh pemikiran Barat. Kritik tersebut lebih mengarah pada kecenderungan menerima begitu saja kategori-kategori yang lahir dari pengalaman sejarah Eropa, lalu menerapkannya ke realitas Nusantara yang sangat berbeda. Padahal struktur sosial, budaya, dan sejarah Nusantara memiliki karakter yang khas. Nusantara berkembang melalui jaringan kerajaan, perdagangan, kebudayaan, dan hubungan antarmasyarakat yang berbeda dengan pengalaman Eropa modern. Ketika bangsa Indonesia terus melihat dirinya melalui definisi dari luar, bangsa ini perlahan kehilangan kemampuan memahami dirinya sendiri secara utuh.

Memahami Indonesia dengan Cara Pandang Indonesia

Karena itu, penting membaca ulang Indonesia dengan cara pandang Indonesia. Persoalannya bukan sekadar istilah bangsa atau suku, tetapi bagaimana bangsa ini memahami identitas dan fondasi kebangsaannya sendiri. Indonesia bukan hadiah. Indonesia bukan sekadar proyek administratif. Indonesia bukan hanya wilayah yang digambar di atas peta. Indonesia adalah hasil perjanjian sejarah bangsa-bangsa Nusantara yang memilih hidup bersama.

Kesadaran tersebut menjadi semakin penting ketika Indonesia menghadapi berbagai tantangan modern seperti ketimpangan ekonomi, meningkatnya utang negara, hingga keputusan strategis yang sering terasa semakin jauh dari rakyat. Dalam kondisi seperti itu, bangsa yang tidak memahami dirinya sendiri akan mudah diarahkan oleh pihak lain. Bangsa yang kehilangan pemahaman terhadap identitasnya akan lebih mudah kehilangan arah dan masa depan.

Indonesia sebagai Eksperimen Peradaban

Mungkin justru karena itulah Indonesia menjadi salah satu eksperimen peradaban terbesar di dunia. Tidak banyak negara yang dibangun dari ratusan identitas budaya, bahasa, tradisi, dan sejarah yang berbeda, tetapi tetap memilih hidup bersama dalam satu negara. Indonesia bukan negara yang dibangun dari satu bangsa tunggal. Indonesia adalah rumah besar bagi bangsa-bangsa Nusantara. Bangsa Jawa, Melayu, Sunda, Bugis, Madura, Batak, Dayak, Aceh, Minangkabau, Banjar, dan ratusan lainnya tidak dihapus keberadaannya oleh Indonesia. Mereka justru menjadi bagian dari fondasi Indonesia itu sendiri. Dan mungkin inti terpenting dari seluruh refleksi ini terletak pada satu kesadaran sederhana: Indonesia berdiri karena berbagai bangsa memilih mengucapkan kalimat yang sama: "Kami berbeda, tetapi kami sepakat menjadi Indonesia."