Dalam praktik kenegaraan Indonesia, formalitas menggantikan kepedulian terlihat ketika prosedur dan aturan dijalankan ketat, tetapi kesejahteraan rakyat sering diabaikan. Mekanisme birokrasi lebih fokus pada kelengkapan administrasi daripada pemenuhan kebutuhan warga. Forum konsultasi publik ada, namun aspirasi masyarakat jarang memengaruhi keputusan akhir. Formalitas berlebihan menjadikan aturan tujuan, bukan sarana pelayanan rakyat. Akibatnya, rakyat hanya menjadi legitimasi prosedural, bukan subjek pengambil keputusan yang sebenarnya.
Formalitas menggantikan kepedulian terlihat jelas ketika kebijakan strategis lebih menekankan prosedur hukum dan administratif dibanding dampak sosial. Setiap keputusan harus melalui mekanisme panjang, sementara kebutuhan mendesak masyarakat kerap terabaikan. Kritik warga melalui forum formal sering dianggap mengganggu dan dijawab secara sementara. Akibatnya, substansi keadilan sosial tertinggal, meski formalitas tetap terpenuhi. Sistem ini memperkuat birokrasi, tetapi menimbulkan jarak antara pemerintah dan masyarakat.
Pemerintah sering menekankan forum publik sebagai bukti partisipasi demokratis. Namun, formalitas menggantikan kepedulian membuat proses konsultasi lebih bersifat pencitraan. Keputusan strategis biasanya sudah ditentukan sebelumnya. Partisipasi rakyat tidak diimbangi dengan pengaruh nyata terhadap kebijakan. Demokrasi prosedural berjalan, tetapi substansi partisipasi dan keadilan hilang. Rakyat tetap menjadi objek formalitas, bukan subjek yang menentukan arah kebijakan, sehingga legitimasi prosedural menjadi ilusi.
Dominasi prosedur mengurangi motivasi partisipasi masyarakat. Formalitas menggantikan kepedulian menyebabkan rakyat merasa tidak memiliki pengaruh nyata terhadap kebijakan publik. Kritik melalui forum formal jarang berdampak pada keputusan akhir. Siklus ini menciptakan warga pasif, sementara birokrasi menguat sebagai pengendali. Ketika kebutuhan publik tidak direspons dengan cepat dan tepat, kepercayaan terhadap lembaga pemerintah menurun. Rakyat mengalami formalitas, tetapi tidak merasakan keadilan atau perhatian nyata.
Prinsip Partai X menekankan perlunya negara kembali menjadi pelayan rakyat. Formalitas menggantikan kepedulian harus dialihkan menjadi prosedur yang mendukung kesejahteraan publik. Langkah konkret meliputi:
Langkah ini memastikan formalitas berfungsi sebagai sarana efisiensi dan akuntabilitas, bukan penghalang kepedulian terhadap rakyat.
Formalitas menggantikan kepedulian merupakan tantangan serius dalam tata kelola negara. Negara harus menyeimbangkan prosedur hukum dengan perlindungan substantif bagi rakyat. Reformasi struktural, forum publik bermakna, dan transparansi operasional menjadi kunci agar rakyat kembali menjadi subjek kebijakan. Prinsip Partai X menegaskan negara harus melindungi, melayani, dan mengatur rakyat dengan adil, transparan, dan akuntabel. Dengan langkah ini, formalitas tidak lagi menindas kepentingan publik, tetapi menjadi instrumen memperkuat demokrasi dan kedaulatan rakyat.