Berita

Menyerap Kearifan Warga Estonia untuk Membangun Peradaban yang Selaras dengan Alam
Berita Terbaru

Menyerap Kearifan Warga Estonia untuk Membangun Peradaban yang Selaras dengan Alam

TALLINN, ESTONIA – Memahami keberhasilan suatu kebijakan publik tidak cukup hanya dengan melihat data dan capaian pembangunan, tetapi juga perlu mendengarkan pengalaman warga yang merasakan dampaknya secara langsung. Berangkat dari pendekatan tersebut, para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan mengadakan dialog informal bersama komunitas lokal Estonia di Hutan Kota Kadriorg, Tallinn. Perbincangan ini membahas hubungan antara kelestarian lingkungan, kualitas hidup masyarakat, dan kebahagiaan suatu bangsa. Suasana hutan yang sejuk menjadi ruang terbuka untuk bertukar pandangan mengenai cara sebuah negara menjaga keseimbangan antara kemajuan dan alam. Dialog tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memahami nilai kehidupan masyarakat Estonia melalui pengalaman sehari-hari mereka.

Dialog lintas budaya ini diinisiasi oleh Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dengan bantuan Wiwik H, diaspora Indonesia yang memahami konteks budaya Estonia. Kehadiran Wiwik membantu menjembatani komunikasi sehingga warga lokal dapat menyampaikan pandangan mereka dengan nyaman. Pembicaraan tidak hanya membahas kondisi hutan, tetapi juga menyentuh hubungan masyarakat dengan alam dan penyelenggaraan negara. Melalui dialog tersebut, para peserta berupaya menggali pelajaran yang dapat menjadi bahan pemikiran bagi pembangunan Indonesia.

Hutan sebagai Bagian dari Kehidupan Masyarakat

Warga Estonia menjelaskan bahwa hutan memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan mereka dan kerap dipandang sebagai ruang yang bernilai spiritual. Meskipun Estonia dikenal luas melalui perkembangan layanan digitalnya, masyarakat tetap menjaga kedekatan dengan tanah, pepohonan, dan udara bersih. Mereka juga menjelaskan upaya perlindungan terhadap kawasan hutan dan rawa yang mencakup lebih dari separuh wilayah daratan negara tersebut. Perlindungan ini menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem di tengah kebutuhan pembangunan ekonomi. Bagi masyarakat yang berdialog dengan delegasi Sekolah Negarawan, kemajuan teknologi tidak harus membuat manusia menjauh dari alam.

Pandangan tersebut menarik perhatian Prayogi R. Saputra karena memiliki keterkaitan dengan pemikiran Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Prayogi melihat adanya nilai yang dapat disebut sebagai puasa ekologis, yaitu kesediaan menahan diri dari eksploitasi alam demi keuntungan ekonomi jangka pendek. Menurut pendekatan ini, kemajuan suatu bangsa perlu diukur melalui kemampuannya menjaga sumber kehidupan bagi generasi sekarang dan mendatang. Keuntungan ekonomi tidak akan mampu menggantikan fungsi hutan dalam menyediakan udara bersih dan menjaga keseimbangan lingkungan. Karena itu, kewarasan dalam membangun negara juga tercermin dari kebijaksanaan manusia dalam memperlakukan alam.

Ruang Publik yang Setara bagi Seluruh Warga

Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan menyoroti kesetaraan akses terhadap ruang publik di Hutan Kota Kadriorg. Kawasan tersebut menjadi ruang bersama yang dapat digunakan oleh berbagai kelompok masyarakat tanpa pembagian area khusus berdasarkan kedudukan sosial. Menteri, pengusaha perusahaan rintisan, dan pekerja biasa dapat berjalan di jalur yang sama serta menikmati lingkungan yang sama. Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat menjadi sarana pertemuan warga dari latar belakang berbeda. Kesetaraan dalam mengakses fasilitas bersama juga dapat mendukung tumbuhnya rasa memiliki terhadap lingkungan dan kehidupan bermasyarakat.

Wiwik H menambahkan bahwa ketersediaan ruang publik yang sehat dan mudah dijangkau berperan penting dalam membangun kepercayaan sosial. Lingkungan yang nyaman memberi masyarakat tempat untuk beristirahat, berinteraksi, dan melepaskan tekanan dari aktivitas sehari-hari. Ruang bersama juga membuka peluang terjadinya komunikasi ant warga yang berbeda latar belakang. Ketika fasilitas publik dapat dinikmati secara adil, masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk merasakan kehadiran negara dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, penataan ruang kota perlu memperhatikan kebutuhan warga secara luas, bukan hanya kepentingan pembangunan fisik atau komersial.

Teknologi untuk Melindungi Daya Dukung Lingkungan

Keseimbangan antara perkembangan teknologi digital dan pelestarian alam di Estonia menjadi perhatian CEO Enygma Erick Karya. Ia menilai bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence dalam sistem tata kelola Enygma yang diusung Sekolah Negarawan perlu mencakup pemantauan kondisi lingkungan. Teknologi dapat diarahkan untuk membantu mengukur daya dukung suatu wilayah agar pembangunan tidak melampaui kemampuan alam dalam menopang kehidupan. Penggunaan data juga dapat mendukung pemantauan kualitas udara, perubahan tutupan hutan, dan ketersediaan ruang terbuka hijau. Dengan demikian, teknologi tidak hanya digunakan untuk meningkatkan efisiensi administrasi, tetapi juga membantu menjaga kualitas lingkungan yang dibutuhkan masyarakat.

Pengalaman Estonia memberikan bahan refleksi bagi Indonesia dalam merancang pembangunan perkotaan yang lebih bertanggung jawab. Pemanfaatan kecerdasan buatan dan sistem digital perlu disertai tujuan yang jelas, data yang dapat dipertanggungjawabkan, serta pengawasan terhadap pelaksanaannya. Pemerintah daerah dapat mengembangkan pemantauan lingkungan untuk mendeteksi perubahan kondisi hutan dan ruang terbuka hijau secara lebih terukur. Informasi tersebut dapat menjadi dasar evaluasi ketika pembangunan berpotensi mengurangi daya dukung lingkungan. Pendekatan ini diharapkan membantu memastikan bahwa kemajuan teknologi berjalan seiring dengan perlindungan alam dan pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Memperkaya Pemikiran Kenegaraan dari Berbagai Peradaban

Dialog di Hutan Kota Kadriorg menjadi bagian dari rangkaian riset kenegaraan Ekosistem Sekolah Negarawan yang dihimpun melalui kunjungan ke 12 negara. Berbagai pengalaman dari kawasan Baltik, Nordik, dan Eropa Barat dipelajari bersama nilai serta warisan peradaban Timur Tengah, Persia, dan Asia Tenggara. Pertukaran pengetahuan tersebut menjadi upaya untuk memahami beragam pendekatan dalam membangun kehidupan bernegara yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Pelajaran dari negara lain tidak dimaksudkan untuk diterapkan secara mentah, melainkan dipelajari sesuai kebutuhan dan kondisi Indonesia. Dengan cara tersebut, pengalaman internasional dapat menjadi bahan untuk mengembangkan gagasan yang relevan bagi kehidupan masyarakat di Tanah Air.

Ekosistem Sekolah Negarawan terus mendorong penyebaran pengetahuan dan dialog lintas budaya melalui berbagai kegiatan pembelajaran. Pengalaman di Estonia memperkuat pentingnya menempatkan kelestarian lingkungan, kesetaraan ruang publik, dan pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari pembahasan mengenai masa depan negara. Gagasan tersebut diharapkan dapat memperkaya percakapan pembangunan di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Medan hingga Ternate dan Tidore. Setiap daerah memiliki karakteristik alam dan kebutuhan masyarakat yang perlu dipahami sebelum menentukan arah pembangunan. Pada akhirnya, pembangunan yang bermakna bukan hanya menghasilkan kemajuan fisik dan digital, tetapi juga menjaga alam serta memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat.