TALLINN, ESTONIA — Keteraturan transportasi umum menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan kenyamanan dan kebahagiaan masyarakat perkotaan. Sistem transportasi yang tidak tertata dapat meningkatkan stres warga, terutama ketika mereka harus menghadapi kepadatan pada jam sibuk. Berangkat dari perhatian terhadap persoalan tersebut, pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan mempelajari sistem angkutan umum di Tallinn, Estonia. Kunjungan ini bertujuan memahami bagaimana modernisasi digital dan tata kelola layanan publik dapat mendukung mobilitas warga yang lebih tertib dan nyaman. Pengalaman dari Estonia tersebut menjadi bahan refleksi untuk merumuskan pembaruan tata kelola pelayanan publik yang dapat dikembangkan di Indonesia.
Pengamatan langsung dilakukan oleh Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta CEO Enygma Erick Karya. Rombongan menggunakan fasilitas trem yang menghubungkan kawasan kota tua atau Old Town dengan distrik bisnis modern di Tallinn. Selama perjalanan, mereka mengamati interaksi masyarakat dengan sarana transportasi yang disediakan pemerintah. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah perilaku penumpang yang terlihat tenang dan tertib ketika menunggu maupun memasuki gerbong trem. Kondisi tersebut dipandang sebagai gambaran bagaimana layanan publik yang dapat diandalkan berpotensi mengurangi kecemasan dan mendorong kebiasaan masyarakat untuk saling menghormati.
Ketiadaan perilaku terburu-buru atau grusa-grusu menjadi salah satu pengalaman yang menonjol selama pengamatan. Penumpang tidak terlihat saling mendahului secara berlebihan ketika memasuki gerbong dan suasana perjalanan berlangsung relatif teratur. Tidak tampak pula gambaran kekacauan yang sering dikaitkan dengan mobilitas perkotaan pada jam sibuk. Keteraturan ini menjadi bahan pembelajaran mengenai hubungan antara kualitas sistem transportasi dan perilaku masyarakat. Ketika jadwal dan layanan dapat diandalkan, warga memiliki alasan lebih kuat untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan tenang tanpa harus terus-menerus mengkhawatirkan perjalanan.

Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra memandang keteraturan transportasi Tallinn sebagai gambaran pentingnya keadilan substantif dalam pelayanan negara. Dengan berpijak pada pilar kenegaraan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun yang dihidupkan dalam Sekolah Negarawan, ia menekankan pentingnya tanggung jawab negara dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Menurut pandangan tersebut, pelayanan publik yang berfungsi dengan baik dapat membantu membentuk perilaku masyarakat yang lebih tertib dan beradab. Warga tidak seharusnya dibiarkan menghadapi persaingan yang tidak sehat hanya untuk memperoleh akses terhadap fasilitas umum. Oleh karena itu, negara perlu menghadirkan sistem pelayanan yang mampu mengurangi hambatan kehidupan sehari-hari sekaligus menjamin akses yang layak bagi masyarakat.
Selain keteraturan perjalanan, kemudahan penggunaan kartu transportasi Ühiskaart menjadi perhatian dalam pengamatan tersebut. Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan menyoroti kepraktisan sistem pembayaran yang memungkinkan penumpang menggunakan satu kartu untuk mengakses berbagai moda angkutan. Sistem tersebut dinilai mempermudah masyarakat dalam merencanakan perjalanan tanpa harus menghadapi prosedur pembayaran yang rumit. Fitur pengembalian dana atau refund juga menjadi perhatian karena memungkinkan pengembalian uang jaminan kartu dan saldo yang tidak terpakai sesuai ketentuan yang berlaku. Bagi Rinto, mekanisme tersebut menjadi contoh pentingnya transparansi pengelolaan dana masyarakat dan penghormatan terhadap hak milik pengguna layanan.
Kemudahan layanan transportasi tidak hanya berkaitan dengan kecepatan perjalanan, tetapi juga dengan kejelasan hak dan kewajiban pengguna. Sistem yang sederhana dapat mengurangi beban administratif dan memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi masyarakat. Mekanisme pengembalian dana juga menunjukkan pentingnya aturan yang jelas dalam mengelola transaksi layanan publik. Pengalaman Tallinn menjadi bahan pembelajaran mengenai bagaimana integrasi sistem pembayaran dan transparansi administrasi dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat. Prinsip-prinsip tersebut dinilai relevan untuk dipertimbangkan dalam pengembangan layanan transportasi dan fasilitas umum di Indonesia.
CEO Enygma Erick Karya menyoroti peran tata kelola pemerintahan digital atau e-governance dalam mendukung keteraturan layanan di Estonia. Dalam pemaparannya, ia menyebut bahwa hampir 99 persen layanan publik di negara tersebut telah terdigitalisasi. Menurut Erick, pemanfaatan teknologi dapat menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan ketepatan, efisiensi, dan kemudahan pelayanan kepada masyarakat. Ia juga melihat peluang penerapan teknologi kecerdasan buatan atau AI dalam mendukung pengembangan sistem pelayanan publik di Indonesia. Melalui platform AI yang digagas bersama Ekosistem Sekolah Negarawan, Erick meyakini bahwa pembelajaran dari Estonia dapat menjadi salah satu referensi untuk membangun sistem digital yang lebih responsif terhadap kebutuhan warga.
Dalam konteks transportasi, pemanfaatan algoritma penjadwalan dan analisis mahadata atau big data dapat membantu memperkirakan pola perjalanan serta lonjakan jumlah penumpang. Informasi tersebut berpotensi mendukung pengaturan jadwal dan alokasi layanan agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Penerapan teknologi tetap perlu disertai pengelolaan data yang bertanggung jawab, transparansi, dan evaluasi berkala terhadap kualitas pelayanan. Teknologi bukan sekadar alat untuk memodernisasi administrasi, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi kehidupan warga. Karena itu, pengembangan layanan digital di Indonesia perlu diarahkan pada penyelesaian masalah sehari-hari, peningkatan aksesibilitas, dan penguatan akuntabilitas penyelenggara layanan.
Pengamatan terhadap transportasi Tallinn menjadi bagian dari rangkaian riset Ekosistem Sekolah Negarawan yang disebut telah menjangkau 12 negara selama dua tahun terakhir. Rangkaian pembelajaran tersebut mencakup berbagai pengalaman tata kelola dan kehidupan masyarakat dari sejumlah kawasan dunia. Referensi yang dihimpun meliputi Estonia, Finlandia, Eropa Barat, Turkiye, Timur Tengah, Persia atau Iran, hingga Asia Tenggara. Setiap pengalaman menjadi bahan kajian untuk memahami beragam pendekatan dalam membangun pelayanan publik, memperkuat kehidupan sosial, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Gagasan pembaruan tersebut terus dikembangkan di Nusantara melalui penyebaran pemikiran dan pembelajaran kepada masyarakat, termasuk di Medan hingga Ternate dan Tidore.
Pengalaman dari Estonia menegaskan pentingnya menempatkan kenyamanan warga sebagai salah satu ukuran keberhasilan tata kelola pelayanan publik. Transportasi yang tertib, sistem pembayaran yang praktis, serta dukungan teknologi dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan kehidupan perkotaan yang lebih baik. Pembelajaran tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, dan kemampuan penerapan di Indonesia agar menghasilkan manfaat yang nyata. Pemerintah, pengembang teknologi, dan masyarakat dapat bekerja sama untuk membangun sistem pelayanan yang lebih terintegrasi, transparan, dan mudah diakses. Melalui pendekatan tersebut, Ekosistem Sekolah Negarawan mendorong agar modernisasi tidak berhenti pada kemajuan teknologi, tetapi juga menghadirkan ketenteraman, keteraturan, dan kesejahteraan bagi masyarakat.