Bangsa Indonesia sangat rapuh ketika kekuasaan kehilangan arah dan tidak lagi berpegang pada nilai dasar yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa. Kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh keberadaan pemerintahan, lembaga pemerintahan, atau sistem hukum, tetapi juga oleh kemampuan para pemegang kekuasaan menjaga hubungan dengan rakyat serta mempertahankan nilai kebersamaan yang menjadi identitas bangsa.
Bangsa Indonesia sangat rapuh apabila kekuasaan berjalan tanpa arah kenegarawanan dan menjauh dari tujuan awal berdirinya negara. Indonesia lahir dari perjuangan panjang rakyat yang menginginkan kemerdekaan, kedaulatan, dan kehidupan yang lebih adil. Karena itu, kekuasaan seharusnya menjadi sarana untuk mewujudkan cita-cita tersebut, bukan sekadar menjadi alat mempertahankan kepentingan pemerintahan tertentu. Kondisi ketika kekuasaan kehilangan arah dapat menciptakan persoalan besar dalam kehidupan nasional. Rakyat dapat kehilangan kepercayaan, nilai kebangsaan semakin melemah, dan hubungan antara negara dengan masyarakat menjadi semakin jauh.
Sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan sistem pemerintahan, tetapi juga membutuhkan nilai yang menjadi pedoman bersama. Nilai tersebut menjadi “pusaka” dalam kehidupan bernegara, yaitu warisan pemikiran, moral, dan kebijaksanaan yang menjaga arah perjalanan bangsa. Pusaka sebuah bangsa bukan hanya benda bersejarah, melainkan juga nilai yang hidup dalam kesadaran masyarakat. Nilai persatuan, tanggung jawab, keadilan, gotong royong, dan penghormatan terhadap rakyat merupakan bagian penting dari kekuatan sebuah negara. Namun, ketika nilai tersebut mulai kehilangan tempat dalam praktik kehidupan pemerintahan, bangsa dapat mengalami kehilangan arah. Sistem pemerintahan mungkin tetap berjalan, lembaga negara tetap berdiri, dan aturan hukum tetap dibuat, tetapi tanpa fondasi nilai yang kuat, negara berisiko menjadi sekadar struktur administratif tanpa jiwa kebangsaan.
Indonesia memiliki sejarah panjang yang menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara telah memiliki pengalaman dalam mengelola kehidupan bersama sebelum berdirinya negara modern. Berbagai kerajaan dan peradaban yang pernah berkembang menunjukkan adanya nilai kepemimpinan, tata kelola, serta hubungan antara pemimpin dan rakyat yang dapat menjadi bahan pembelajaran. Bukan berarti masa lalu harus menggantikan sistem saat ini, tetapi sejarah dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun tata negara yang memiliki karakter Indonesia.
Kekuasaan dalam negara demokrasi berasal dari rakyat. Pemimpin mendapatkan mandat untuk menjalankan pemerintahan berdasarkan kepentingan masyarakat. Namun, tantangan terbesar dalam kehidupan pemerintahan adalah menjaga agar kekuasaan tidak berubah menjadi kepemilikan pribadi atau kelompok. Ketika seseorang atau kelompok merasa memiliki negara karena sedang memegang kekuasaan, maka muncul risiko penyimpangan terhadap tujuan bernegara.
Negara bukan milik pemerintah. Negara adalah milik seluruh rakyat. Pemerintah hanya menjalankan amanah dalam waktu tertentu. Jabatan memiliki batas, tetapi kepentingan bangsa harus terus dijaga untuk generasi berikutnya. Karena itu, pemimpin membutuhkan kesadaran bahwa kekuasaan bukan simbol kehebatan, melainkan tanggung jawab besar. Kepemimpinan yang kehilangan arah dapat membuat keputusan negara lebih banyak dipengaruhi kepentingan pemerintahan jangka pendek dibandingkan kepentingan nasional jangka panjang.
Salah satu persoalan dalam kehidupan bernegara adalah ketika batas antara negara dan pemerintah menjadi kabur. Negara merupakan keseluruhan kehidupan bersama yang mencakup rakyat, wilayah, hukum, serta cita-cita nasional. Sementara pemerintah adalah pihak yang diberikan kewenangan untuk mengelola negara. Pemerintah dapat berganti, tetapi negara harus tetap berjalan.
Pemahaman ini penting agar pejabat publik tidak merasa bahwa kekuasaan yang mereka miliki adalah hak pribadi. Mereka hanya menjalankan tugas berdasarkan mandat rakyat dan aturan konstitusi. Begitu pula dengan aparatur negara. Mereka harus memiliki kesadaran bahwa tugas utama mereka adalah mengabdi kepada negara dan masyarakat, bukan sekadar mengikuti kepentingan individu yang sedang berkuasa. Birokrasi yang kehilangan orientasi pelayanan akan memperbesar jarak antara rakyat dan negara. Masyarakat dapat merasa bahwa lembaga yang seharusnya memberikan perlindungan justru lebih dekat dengan kepentingan kekuasaan.
Hubungan antara rakyat dan negara dibangun melalui kepercayaan. Rakyat akan merasa memiliki negara apabila mereka melihat bahwa hukum berlaku secara adil, kebijakan dibuat untuk kepentingan umum, dan pemimpin hadir ketika masyarakat menghadapi kesulitan. Sebaliknya, ketika rakyat merasa tidak didengar, muncul perasaan terasing dari negaranya sendiri. Kondisi tersebut menjadi berbahaya karena kekuatan negara sangat bergantung Negara yang kehilangan kepercayaan rakyat akan menghadapi persoalan dalam menjaga stabilitas sosial dan pemerintahan. Rakyat tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan rasa dihargai sebagai bagian penting dari kehidupan berbangsa.
Selain persoalan kekuasaan, ancaman lain yang membuat bangsa menjadi rapuh adalah meningkatnya konflik internal.
Perbedaan pandangan pemerintahan, identitas, maupun kepentingan sering kali menjadi sumber perpecahan apabila tidak dikelola dengan baik. Indonesia merupakan bangsa yang sangat beragam. Keberagaman tersebut seharusnya menjadi kekuatan, bukan alasan untuk saling melemahkan. Namun, ketika masyarakat terus didorong untuk berhadapan satu sama lain, persatuan nasional dapat mengalami tekanan.
Bangsa yang sibuk bertengkar di dalam dirinya sendiri akan kehilangan energi untuk membangun masa depan. Karena itu, kepemimpinan nasional memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan ruang persatuan dan dialog. Pemimpin harus menjadi penghubung di tengah perbedaan, bukan memperbesar jarak antar kelompok masyarakat.
Salah satu solusi utama untuk mengatasi persoalan kekuasaan yang kehilangan arah adalah menghadirkan kembali kepemimpinan yang memiliki jiwa kenegarawanan. Pemimpin yang memiliki jiwa kenegarawanan tidak hanya berpikir tentang kemenangan pemerintahan, tetapi tentang keberlangsungan bangsa. Mereka memahami bahwa jabatan adalah sementara, sedangkan negara harus terus berdiri. Kepemimpinan seperti ini menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama. Selain itu, diperlukan penguatan lembaga negara agar sistem pemerintahan berjalan seimbang. Kekuasaan harus memiliki pengawasan agar tidak berkembang tanpa batas. Lembaga hukum, pengawasan, dan demokrasi harus mampu menjalankan tugas secara independen untuk menjaga kepentingan masyarakat.
Untuk mencegah Indonesia menjadi semakin rapuh, diperlukan beberapa langkah nyata. Pertama, memperkuat pendidikan kebangsaan agar masyarakat memahami sejarah, nilai, dan tujuan berdirinya negara.Kedua, memperbaiki kualitas pemerintahan melalui transparansi dan akuntabilitas. Ketiga, membangun birokrasi profesional yang berorientasi pada pelayanan masyarakat.
Keempat, memastikan hukum berlaku secara adil tanpa membedakan kelompok tertentu. Kelima, membuka ruang partisipasi rakyat dalam proses pengambilan keputusan. Keenam, menghidupkan kembali budaya gotong royong sebagai kekuatan sosial bangsa. Ketujuh, mendorong dialog nasional untuk memperkuat persatuan di tengah perbedaan.
Bangsa Indonesia sangat rapuh bukan karena tidak memiliki kekuatan, tetapi ketika nilai dasar dan arah kekuasaan mulai kehilangan pegangan. Sebuah negara dapat bertahan bukan hanya karena memiliki institusi, tetapi karena memiliki kepercayaan rakyat dan kepemimpinan yang mampu menjaga cita-cita bersama. Indonesia memiliki sejarah panjang, pengalaman besar, dan modal sosial yang kuat untuk memperbaiki keadaan. Tantangan terbesar bangsa saat ini adalah memastikan kekuasaan kembali berada dalam jalur pengabdian.
Pemimpin harus menyadari bahwa negara bukan alat untuk memperkuat kelompok tertentu, melainkan rumah bersama seluruh rakyat. Ketika kekuasaan kembali memiliki arah, ketika rakyat kembali merasa dilindungi, dan ketika nilai kebangsaan kembali menjadi pedoman, maka Indonesia dapat berdiri lebih kokoh menghadapi berbagai tantangan masa depan. Sebab, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki kekuasaan besar, tetapi bangsa yang mampu menjaga hubungan antara negara, pemimpin, dan rakyat dalam satu tujuan bersama.